Showing posts with label kita. Show all posts
Showing posts with label kita. Show all posts
Tuesday, April 15, 2014
Paku dan Pagar Ajarkan Kita Arti Sahabat
Paku dan Pagar Ajarkan Kita Arti Sahabat - Ini adalah sebuah renungan bagi kita semua tentang arti sebuah persahabatan. Berikut ceritanya:

Pernah ada seorang anak lelaki yang berwatak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.
Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar, karena hari itu anak tersebut tercatat berselisih paham dengan teman temannya. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.
Akhirnya tibalah hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan Gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap kali bila dia berhasil menahan diri/bersabar.
Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata: "Anakku, kamu sudah baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula."
Dengar arah baik baik nak. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar ini. Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal.
Teman teman kita adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat. Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu. Tunjukkanlah kepada teman-temanmu betapa kau menyukai mereka
Semoga Bermanfaat ^_^
sumber: http://situslakalaka.blogspot.com/2011/03/paku-dan-pagar-mengajari-kita-arti.html
Sunday, December 15, 2013
Atlit Squash Ini Mengajarkan Kita Integritas
Integritas menurut kamus Bahasa Indonesia adalah sifat atau keadaan yang memiliki potensi dan kemampuan untuk memancarkan kewibawaan serta kejujuran.
Menjadi manusia jujur bukanlah perkara mudah, apalagi di saat kita menikmati keuntungan dalam sebuah kebohongan. Mungkin satu contoh dari atlit Squash ini bisa jadi bahan renungan.
Menjadi manusia jujur bukanlah perkara mudah, apalagi di saat kita menikmati keuntungan dalam sebuah kebohongan. Mungkin satu contoh dari atlit Squash ini bisa jadi bahan renungan.

ilustrasi / thiagodefreitas.com
Dalam sebuah pertandingan yang dimuat dalam National Racquetball Magazine, diceritakan Reuben Gonzales yang mementahkan keputusan wasit yang menguntungkan dirinya.
Pada pertandingan tersebut, Gonzales melancarkan pukulan "mematikan" ke dinding depan untuk memenangkan pertandingan. Pukulan ini sangat menentukan poin untuk menang atau kalah. Wasit menyebutnya sebuah tembakan yang jitu. Salah satu dari dua hakim garis menegaskan bila tembakan itu masuk.
Tapi, setelah ragu-ragu sejenak, Gonzales berbalik, menjabat tangan lawannya, dan menyatakan bila tembakan tadi hanya melewati dinding, menghantam lantai pertama lapangan. Akibatnya, ia kehilangan pertandingan tersebut. Ia berjalan keluar lapangan. Semua orang tertegun.
National Racquetball Magazine menjelaskan bahwa inilah kejadian pertama kalinya di sirkuit squash profesional. Siapa yang akan menyangka bahwa dalam sebuah pertandingan yang penting itu - juga tak ada keberatan dari hakim dan lawan - Gonzales justru menuruti kata hatinya. Ia mendiskualifikasi dirinya di angka penentuan dan kalah!
Ketika ditanya mengapa dia melakukannya, Reuben menjawab, “Itu adalah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan untuk mempertahankan integritas saya.”
Ini bukanlah perkara mudah. Saat kita sedang berada di atas angin, mendapat keuntungan apalagi nama besar, prestasi dan materi, sangat susah untuk tetap menjadi orang jujur. Mengakui bila kita telah melakukan kesalahan. Dan, hanya orang yang berjiwa sangat besar berani melakukannya.
Tanyalah pada diri kita masing-masing, apakah kita bisa menjadi orang dengan integritas? Apalagi sebagai orang beragama, jaminan surga pasti menanti kita. Berani?
Pada pertandingan tersebut, Gonzales melancarkan pukulan "mematikan" ke dinding depan untuk memenangkan pertandingan. Pukulan ini sangat menentukan poin untuk menang atau kalah. Wasit menyebutnya sebuah tembakan yang jitu. Salah satu dari dua hakim garis menegaskan bila tembakan itu masuk.
Tapi, setelah ragu-ragu sejenak, Gonzales berbalik, menjabat tangan lawannya, dan menyatakan bila tembakan tadi hanya melewati dinding, menghantam lantai pertama lapangan. Akibatnya, ia kehilangan pertandingan tersebut. Ia berjalan keluar lapangan. Semua orang tertegun.
National Racquetball Magazine menjelaskan bahwa inilah kejadian pertama kalinya di sirkuit squash profesional. Siapa yang akan menyangka bahwa dalam sebuah pertandingan yang penting itu - juga tak ada keberatan dari hakim dan lawan - Gonzales justru menuruti kata hatinya. Ia mendiskualifikasi dirinya di angka penentuan dan kalah!
Ketika ditanya mengapa dia melakukannya, Reuben menjawab, “Itu adalah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan untuk mempertahankan integritas saya.”
Ini bukanlah perkara mudah. Saat kita sedang berada di atas angin, mendapat keuntungan apalagi nama besar, prestasi dan materi, sangat susah untuk tetap menjadi orang jujur. Mengakui bila kita telah melakukan kesalahan. Dan, hanya orang yang berjiwa sangat besar berani melakukannya.
Tanyalah pada diri kita masing-masing, apakah kita bisa menjadi orang dengan integritas? Apalagi sebagai orang beragama, jaminan surga pasti menanti kita. Berani?
Sumber:
intisari-online
intisari-online
Labels:
atlit,
ini,
integritas,
kita,
mengajarkan,
squash
Subscribe to:
Posts (Atom)